Posts

Perjamuan Petir di Penghujung Amarah

Di rumah itu, udara selalu terasa tajam, Bukan karena dingin, tapi karena lisan yang tak pernah padam. Ia berdiri seperti menara tua yang angkuh, Menanam duri di setiap langkahku yang mulai rapuh. Setiap hari, aku menelan belati dari tiap katanya, Menghitung retak di hati yang kian menganga luasnya. "Tak becus," katanya, "Tak pantas," desisnya, Menjadi racun yang menyusup di antara doa dan air mata. Hingga sore itu, langit tak lagi sanggup memendam benci, Awan hitam bergulung, sehitam rasa sakit yang kupendam di hati. Guntur menggelegar, menyuarakan jeritan yang tak mampu kuucap, Tentang ribuan luka yang dalam diam kuserap. Ia berdiri di sana, menantang cakrawala yang murka, Masih dengan telunjuk yang menuding, mencari-cari noda dan luka. Beliau tak tahu, bahwa langit sedang menghitung setiap tetes air mataku, Bahwa semesta sedang menyiapkan pengadilan bagi setiap pilu. Lalu, cahaya putih membelah jagat. Satu kilat, satu dentum, satu takdir yang menjemput, Memutus r...

Hujan, Doa, dan Kata yang Tak Pernah Dijaga

Image
Ia sedang duduk di depan laptop ketika musik pelan mengalun dari sudut kamar. Tidak keras, hanya cukup untuk menemani jemarinya mengetik. Pekerjaan WFH itu menuntut fokus, dan kamar yang cukup kedap membuatnya lupa pada dunia luar bahkan lupa bahwa langit sedang runtuh oleh hujan. Ia baru tersentak ketika suara orang-orang memanggil namanya dari luar rumah. Berkali-kali. Tergesa, nyaring, bercampur kepanikan. Hatinya langsung mencelos. Ia menoleh ke jendela, hujan turun deras. Air mulai menggenang. Ia berdiri terburu-buru, lalu teringat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti: ia belum berpakaian pantas untuk keluar sebagai seorang muslimah. Dengan napas tertahan, ia mengganti busana seadanya, lalu berlari keluar rumah. Di luar, suasana riuh. Tetangga sibuk mengalirkan air yang hampir masuk ke rumah-rumah. Di tengah kekacauan itu, seorang kakek melintas. Pakaiannya basah, tubuhnya penuh lumpur barangkali baru pulang dari sawah atau tegal. Tatapan kakek itu singgah padanya sebentar. La...

Surat Yang Tak Pernah Kukirim #3

Untuk diriku yang sedang berusaha… Hai, kamu. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Aku tahu, tak semua hari terasa mudah. Kadang kamu tersenyum di luar, tapi ada gemuruh yang tak bisa dijelaskan di dalam. Kadang kamu bilang "nggak apa-apa", padahal hatimu retak pelan-pelan. Tapi tetap saja, kamu bangun setiap pagi, berjalan dengan kaki gemetar, dan tetap mencoba. Aku ingin bilang satu hal penting: kamu tidak harus kuat setiap waktu. Nggak apa-apa kalau hari ini kamu merasa lelah. Nggak apa-apa kalau kamu belum bisa memenuhi semua ekspektasi. Kamu manusia, bukan mesin pencetak keberhasilan. Berhentilah merasa bersalah hanya karena kamu ingin istirahat. Rehat bukan tanda menyerah. Rehat adalah bentuk cinta yang sering kita lupakan untuk diri sendiri. Jangan terlalu keras pada dirimu, ya. Kamu sudah melakukan yang terbaik—bahkan saat dunia tak melihat, bahkan saat kamu sendiri merasa itu belum cukup. Belajar pelan-pelan untuk mencintai dirimu, bukan karena kamu sempurna...

Boleh Kok Nggak Kuat Dulu: Tips Mencintai Diri di Tengah Kelelahan

Ada satu masa dalam hidup ketika kita mulai menyadari: jadi kuat terus-terusan itu melelahkan. Dan lebih melelahkan lagi ketika kita memaksakan diri terlihat kuat hanya karena takut dicap lemah. Sejak kecil, kita diajarkan untuk tangguh. Menahan tangis, menyembunyikan luka, dan berdiri tegak seolah semua baik-baik saja. Kita tumbuh dalam narasi yang seringkali menjadikan kelelahan sebagai tanda pengabdian, dan diam sebagai bentuk kedewasaan. Padahal diam tak selalu berarti kuat, dan lelah tak selalu layak dirayakan. Aku menulis ini bukan karena sudah sepenuhnya pulih. Tapi justru karena aku sedang belajar. Belajar mencintai diri yang kadang sulit dicintai. Belajar menerima hari-hari ketika bangun tidur terasa seperti beban. Belajar memberi ruang untuk diri yang kelelahan. Dan di tengah proses belajar itu, aku menemukan hal-hal sederhana yang justru membuatku kembali bisa bernapas. Hal-hal kecil yang ternyata, bisa menjadi cara untuk berkata pada diri sendiri: "Terima kasih suda...

Surat yang Tak Pernah Kukirim #2

Untuk kamu, sahabatku yang juga diam-diam jadi rumah—dan luka Aku pernah percaya bahwa hubungan kita akan selalu aman. Tidak akan ada rasa yang datang terlalu jauh, atau menjauh terlalu dalam. Tapi rupanya aku salah. Aku mulai merindukanmu bahkan saat kita masih duduk bersebelahan. Aku mulai berharap kamu membalas tatapan itu, bukan cuma sebagai teman. Lucu ya, bagaimana seseorang bisa menjadi segalanya, tapi tidak pernah benar-benar menjadi milikmu. Kamu selalu datang, dengan cerita-cerita kecilmu tentang dia. Tentang perasaanmu. Tentang bagaimana kamu ingin membuat dia tertawa. Dan aku, seperti biasa—mendengarkan, tersenyum, mengangguk. Padahal dalam hatiku, aku hancur sedikit demi sedikit. Karena setiap kamu menyebut namanya, aku kehilangan satu bagian dari diriku sendiri. Aku ingin marah. Tapi pada siapa? Pada kamu yang tak pernah tahu? Atau pada aku yang terlalu pengecut untuk bilang bahwa aku mencintaimu lebih dari yang seharusnya? Aku tahu... kalau aku jujur, mungk...

Surat yang Tak Pernah Kukirim #1

              Untuk Kamu yang Kucintai Diam-Diam Magelang, 26 Juli 2010 Hai, kamu. Mungkin kamu nggak akan pernah baca ini. Atau kalau pun suatu hari kamu membacanya, kamu mungkin tidak tahu bahwa surat ini untukmu. Dan aku rasa, itu lebih baik begitu. Aku pernah menyukaimu. Bukan, lebih tepatnya... aku masih menyukaimu. Diam-diam. Tenang-tenang. Dalam cara yang bahkan tak bisa kujelaskan. Rasanya aneh mencintai seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar hadir. Tapi setiap kali kamu muncul di sela hidupku—lewat senyum, tanya kabar, atau sekadar candamu yang selalu telat kupahami—aku merasa cukup. Aku menyukai caramu menjawab dunia. Caramu bicara tentang hal-hal besar dengan mata yang menyala. Aku menyukai caramu menyebut nama orang-orang yang kamu sayangi, dan berharap suatu hari, mungkin, aku jadi salah satunya. Tapi aku tahu, aku bukan bagian dari kisahmu. Aku hanyalah pelintas. Dan kamu, kamu adalah seseorang yang singgah untuk membu...

Patah

 sayangnya, aku patah— bukan retak yang bisa direkat bukan luka yang bisa diobat tapi hancur, diam-diam, dalam sunyi yang tak pernah sempat kuminta siapa pun untuk mengerti aku pernah utuh, sungguh pernah percaya bahwa cinta adalah pelindung, bukan penghancur tapi nyatanya, yang kupeluk justru bayanganmu dan yang tinggal hanya serpihan aku yang dulu sayangnya, aku patah tapi tak apa— dari reruntuhan ini, suatu hari akan tumbuh aku yang baru lebih kuat meski tak lagi sama. —aksaraakrima

Lopp #Ep01

Lama tak bersua! Kuharap kabar baik selalu menyertai setiap pembaca tulisanku ini. Sembari mendengarkan lagu jawa yang sedang hits, Nemu dari Gilga Sahid ditemani air putih dan kolak ketela yang sempat dibuat tadi pagi tiba-tiba hati tergugah untuk menulis kembali. Jendela kost yang memperlihatkan pemandangan yang tidak begitu estetik namun langit berkata sudah sore dan waktunya untuk menggelapkan diri serasa mendukung niatan hati ini.  Tulisan ini kuberi judul Lopp #Ep01 karena aku harap tulisanku ini akan berlanjut sampai tenggelamnya aku ke bumi. Lopp merupakan nama kontak seseorang yang sudah aku tulis pada episode sebelumnya. Jika sebelumnya kisahku dengannya masih sangat dipertanyakan. Kali ini aku ingin mengatakan dan mengumumkan pada jagad bahwa tepat pada 16 Mei kita bersama mendeklarasikan untuk selangkah lebih maju untuk hubungan kami ke depan.  Tidak mudah.  Jelas. Dua kepala, dua pemikiran, dua orang, dua gender, dan pastinya dua trauma yang berbeda. Namun sa...

Tulisan Ini Tentangnya, Ch

Entah untuk kali pertamanya atau untuk ke sekian kalinya aku merasa beruntung dan bersyukur atas apa yang Tuhan kasihkan kepadaku. Di saat aku ingin mengeluhkan apa yang ada di depanku, selalu saja Tuhan timpa hal-hal yang jauh lebih membahagiakan yang membuatku merasa malu untuk menyerah dengan keadaan. Entah rasa apa yang berasa, namun Tuhan.. aku berterima kasih atas apa yang selalu Kau beri. Salah satu hal yang membuatku bersyukur adalah dipertemukan dengan seorang malaikat tak bersayap yang mengajarkanku banyak hal yang selalu tanpa dia sadari kebaikannya membuatku merasa selalu nyaman untuk menceritakan banyak hal tentang diriku kepadanya. Aku merasa tidak sendiri melewati semua ini. Rasa-rasanya memang selalu tidak adil karena yang terjadi adalah aku selalu menyusahkannya sedangkan dia? Dia hanya sebatas menjadi pendengar yang baik, pemberi solusi yang baik, dia datang dengan obat yang aku keluhkan. Dia dokter bagiku, untukku. Andaikan ada kebaikan yang bisa membalas keb...

Saat Ini, Bukan Tentang Saat Lalu

Perubahan terbesar yang terjadi dalam hidup seseorang pasti selalu mengenai setiap orang. Tidak melihat siapa orang tersebut, pun kapan hal itu akan terjadi.  Sebuah pertemuan yang berawal dari sebuah kata sapa, lewat fitur yang sudah tidak asing lagi di era digital ini membuat kehidupan seseorang berubah. Sapaan yang sudah tidak menjadi rahasia lagi, sudah bukan menjadi barang asing lagi. Ini tentang sebuah kerinduan terhadap seseorang yang selayaknya sudah tidak boleh dirasakan. Seseorang yang sejatinya sudah bukan lagi siapa-siapa dan apa-apa lagi. Ingin mengatakan kata 'terima kasih', hanya saja rasa gengsi terlalu tinggi membuat semua seakan berlalu begitu saja. Rasa gengsi yang jauh lebih besar daripada ucap kata dalam fitur digital itu. Padahal, hal yang sangat mudah untuk dilakukan.  Seakan yang terjadi adalah semua akses menuju pintunya tertutup begitu saja.  Mencoba membuka dan mengatakan kata 'basa basi' yang akhirnya hanya saling bertukar kabar yang tidak be...

Kata Tentang Kita - Episode 01

Aneh. Seperti hanya sekejap. Apa ada yang salah?  Apakah karena ekspektasi yang terlalu besar? Apakah apa ini? Bukan. Sepertinya memang dari awal sudah salah.  Harusnya tidak berjalan dengan lancar. Lagi untuk apa berjalan lancar kalau akhirnya hambar.  Atau memang sedang hambar? Atau memang akan seterusnya hambar? Atau hanya terbuai oleh sebuah kenyamanan semata? Entahlah. Akankah menyisih? Atau memang ini jalannya? Salahkah doa yang kuucapkan? Maaf, bahkan aku lupa untuk berdo'a Menyerah? Haruskah itu yang harus kulakukan? Haruskah? Tapi, aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak kembali menghilang  Bingung. Haruskah kembali mengulang? Jika pada akhirnya, datangmu hanya sementara untuk apa kau buatku nyaman? Aku benci, tapi aku tidak bisa melepas Sudah. ikuti saja dulu alur inginnya bagaimana. Bukankah begitu? -akr

Yang Kukira, Semoga...

Kisah ini bermula ketika aku sudah sangat nyaman dengan kehidupanku. Nyaman dengan kesendirian. Terbiasa dengan kesepian yang tidak benar-benar sepi. Kenyamanan yang entah aku dapatkan dari mana. Yang pasti semua berjalan lancar dan damai. Aku sangat sudah bisa berdamai dengan masa lalu. Sangat pula bisa berdamai dengan diriku sendiri. Dan di saat itulah, kamu datang. Kedatangan yang sebenarnya sudah aku hindari sebelumnya. Karena aku tahu apa yang akan terjadi dengan risiko yang akan aku dapat setelahnya. Membuka hati, artinya harus siap untuk menutupnya kembali. Dan benar saja. Engkau membuka hati yang sudah aku kunci rapat-rapat. Terbiasa yang menjadi biasa. Nyaman. Mungkin itu yang terjadi. Satu dua kali, barang hal yang sangat tidak penting sampai hal yang penting untuk diperbincangkan. Mencoba untuk biasa, namun akhirnya kenyamanan itu bukan malah menjadi biasa. Semakin aneh dan aku sendiri tidak tahu itu apa. Mencoba memperjelas semuanya. Tentang apa yang sebenarnya terjad...

Teruntuk Kamu!

Hati itu unik.  Terkadang bisa sangat bahagia sampai lupa apa itu sedih, kecewa. Namun di saat bersamaan bisa berubah menjadi sedih, kecewa, sampai lupa apa itu bahagia.  Mungkin lebih tepatnya hati itu labil. Seperti saat-saat ini, yang aku pribadi rasakan. Dalam waktu bersamaan bisa bahagia namun juga sedih, kecewa. Entah apa yang sebenarnya terjadi padaku.  Tuhan. Bolehkah aku berharap padamu? Jika kata hatiku ini benar dan tepat, dekatkanlah aku dengannya. Dengan orang yang tanpa kusadari telah membantuku, membuka pikiranku bahwa hidup tak selalu berkutat atas diri kita sendiri. Bahwa apa yang telah terjadi, tidak sebaiknya untuk selalu disesali.  Kali ini bukan dengan orang yang sama, tapi bukan orang asing.  Orang dari masa lalu.  Mungkin karena terbiasa, tapi tidak juga.  Mungkin, obrolan yang tiada hentinya, namun tidak juga menemui titiknya.  Entahlah apa itu, yang pasti yang terjadi saat ini, adalah hal lama yang sudah sejak bertahun-tah...

First Love

Kriiiiinggggggg... Hai, sobat! Sudah sekian lama aku tidak menulis di blog ini. Hampir saja aku lupa kalau aku punya blog. Dan sebenarnya aku juga bingung mau menulis apa sekarang, tapi aku pengen nulis. Gimana dong? Ya udah sih, seperti yang sobat liat atau lebih tepatnya baca di judul. Hari ini aku mau menulis tentang first love. Kalian punya first love ngga sih? Pasti ada ya, entah mungkin juga ada orang-orang yang ngga punya first lovenya. Yang pasti, aku ada. Jatuh cinta yang bahkan aku sendiri ngga sadar kalau aku sudah jatuh cinta dengan orang itu. Aku saja sangat tidak ingat awal kali pertama ketemu dia.  Oke, jadi singkatnya gini gaiss. Waktu itu, aku masih kelas VIII di salah satu sekolah madrasah tsanawiyah negeri gitu di daerahku. Ngga ngerti gimana dia bisa punya kontak hpku, yang jelas suatu malam ada SMS masuk ke hpku. Kenalan, dekat, dan lama-lama dia bilanglah kalau dia suka dan kitapun pacaran. Sesimple itu? Ya. Aku ngga ngerti juga kenapa kala itu aku iya aja. Ya...

Terima Saja Tanpa Tapi #TSTT1

Dimensi Perantara Salam itu masih terngiang-ngiang dalam otakku. Sampai-sampai aku lupa bahwa dia sudah bahagia dengan orang lain. Lupa bahwa mungkin salamnya hanya basa basi saja. Atau mungkin tidak adanya topik yang ia bahas dengan saudaraku sampai-sampai mengirimkan salam untukku. Entahlah. Tapi salam itu sampai saat ini masih saja berkeliling di otakku. Tidak bisa dipungkiri memang bahwa suasana hati sebaik apapun atau seburuk apapun jika kembali bertabrakan dengan hal yang berkaitan dengannya pertahananku akan hancur begitu saja. Mungkin itulah salah satu alasan aku tidak pernah lagi mau membahas sosoknya. Sampai pada akhirnya, oke. Ini sudah sangat mengganggu pikiranku dan aku pun hanya bisa halu dan menuliskannya. Hari itu, hari Minggu saat aku bersama sepupuku akan menghadiri sebuah hajatan nikahan teman. Saat itu, saudaraku sedang berada di depan rumah. Sambil menjatuhkan alas kakiku ke tanah dan meminta izin ke ibuku, tiba-tiba kata itu keluar dari mulut saudaraku. “Alea, dap...

Berkunjung ke Candi Borobudur Episode Pandemi Covid 19

Image
Doc. pribadi Hello, sobat! Pada kesempatan hari ini aku akan menulis sedikit hal mengenai pengalaman perjalananku beberapa hari ini. Pergi kemanakah aku? Sebenarnya tidak begitu jauh dengan lokasi rumahku, masih di daerah Magelang juga. Dan mungkin, sobat juga tidak asing dengan nama tempat ini.  Oke, kita mulai saja. Kali ini aku berkesempatan untuk berkunjung ke Candi Borobudur. Sebenarnya bukan untuk kali pertamanya aku pergi ke candi tersebut, namun sepertinya aku selalu tidak memiliki dokumentasi pribadi dengan tempat tersebut. Dan pada kesempatan beberapa waktu lalulah, aku gunakan kesempatan untuk mendokumentasikannya. Tidak ada yang spesial memang, namun sepertinya jika aku hanya mendokumentasikan dan menyimpannya sendiri akan sangat kurang manfaatnya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menuliskannya di blog ini, yang entah nantinya ada pembacanya atau tidak, yang kuyakini adalah aku hanya bisa berbagi dengan caraku. Dan inilah caraku. Pertama, yang perlu sobat siapkan ad...

Lirik Lagu Hymne FSM Undip

  Halo sob, kali ini aku bakal bagiin lirik mars FSM Undip. Kenapa? Karena sepertinya belum pernah ada yang membagikan tulisan mengenai liriknya sehingga semoga dengan adanya lirik ini, sobat mahasiswa FSM yang membutuhkan dapat terbantu. Silakan membaca..   HYMNE FSM UNDIP Lyrics by VOSC FSM UNDIP (Maaf saya tidak tahu siapa penciptanya) F S M selamanya jaya F S M selamanya maju Berkobar dalam kalbu Semangat dharma bhakti Kuatkan rasa bersama Berjuanglah demi asa Kukuhkan tekad suci Abdikan untuk negeri Berkibar jiwa raga Semangat nusa bangsa Bersama kita bisa Bersatu kita jaya Hu u u Sanubarimu dalam doa Keteguhanmu dalam cita Bersama pasti kita bisa Gapai F S M jaya Gapai F S M jaya   Gimana sob? Kalo ada yang salah dalam penulisan lirik boleh langsung saja kirimkan komentar sobat ya. Terimakasih.   #Undip #DiponegoroUniversity #ExcellentUndip #UndipJaya #UndipMaju