Boleh Kok Nggak Kuat Dulu: Tips Mencintai Diri di Tengah Kelelahan
Ada satu masa dalam hidup ketika kita mulai menyadari: jadi kuat terus-terusan itu melelahkan. Dan lebih melelahkan lagi ketika kita memaksakan diri terlihat kuat hanya karena takut dicap lemah.
Sejak kecil, kita diajarkan untuk tangguh. Menahan tangis, menyembunyikan luka, dan berdiri tegak seolah semua baik-baik saja. Kita tumbuh dalam narasi yang seringkali menjadikan kelelahan sebagai tanda pengabdian, dan diam sebagai bentuk kedewasaan. Padahal diam tak selalu berarti kuat, dan lelah tak selalu layak dirayakan.
Aku menulis ini bukan karena sudah sepenuhnya pulih. Tapi justru karena aku sedang belajar. Belajar mencintai diri yang kadang sulit dicintai. Belajar menerima hari-hari ketika bangun tidur terasa seperti beban. Belajar memberi ruang untuk diri yang kelelahan.
Dan di tengah proses belajar itu, aku menemukan hal-hal sederhana yang justru membuatku kembali bisa bernapas. Hal-hal kecil yang ternyata, bisa menjadi cara untuk berkata pada diri sendiri: "Terima kasih sudah bertahan sejauh ini."
Berikut beberapa di antaranya.
💤 1. Tidur tanpa rasa bersalah
Banyak dari kita yang masih merasa bersalah ketika memilih istirahat. Seolah tidur siang adalah kemewahan, dan rebahan dianggap sebagai bentuk kemalasan. Padahal, istirahat bukanlah bentuk kemunduran—ia adalah kebutuhan.
Kamu tidak harus mengerjakan segalanya hari ini. Kamu tidak harus menyelesaikan semua to-do list untuk bisa beristirahat dengan tenang. Tubuhmu, pikiranmu, hatimu, mereka semua juga butuh jeda. Dan kamu berhak memberi itu, tanpa rasa bersalah.
🫧 2. Jangan balas chat dulu kalau hatimu belum tenang
Tidak semua notifikasi harus segera dibuka. Tidak semua pesan harus langsung dibalas. Apalagi jika isi hati sedang penuh sesak, dan energi untuk berinteraksi sedang tipis-tipisnya.
Menunda bukan berarti kamu tidak peduli. Kadang, itu justru cara paling jujur untuk menjaga dirimu sendiri tetap utuh. Kamu boleh menunggu sampai hatimu cukup tenang. Sampai kamu bisa hadir sepenuhnya dalam percakapan. Sampai kamu tidak merasa terpaksa.
⏳ 3. Produktif itu bukan satu-satunya cara mencintai diri
Kita hidup di zaman yang mengukur nilai manusia dari produktivitasnya. Semakin sibuk, semakin dihargai. Semakin capek, semakin dianggap hebat. Sampai-sampai kita takut untuk tidak melakukan apa-apa.
Padahal, diam juga bentuk keberadaan. Duduk tanpa tujuan pun bisa jadi bentuk perawatan diri. Karena kamu tidak harus terus menghasilkan sesuatu untuk bisa dihargai. Cinta diri bukan hanya tentang pencapaian. Kadang, ia hadir dalam bentuk keberanian untuk tidak apa-apa.
📝 4. Tulis satu hal yang kamu syukuri hari ini
Syukur itu seperti jendela. Ia tidak selalu mengubah dunia luar, tapi bisa membuka dunia dalam. Ketika hari terasa gelap, kamu bisa mencoba menyalakan satu titik cahaya dengan menulis satu hal yang patut disyukuri.
Mungkin kamu bersyukur karena matahari pagi ini hangat. Atau karena bisa makan makanan favorit. Atau karena seseorang yang kamu sayangi membalas pesanmu. Sekecil apapun, tetap layak untuk dihargai. Dan pelan-pelan, itu bisa jadi pengingat bahwa tidak semua hal hilang saat kamu merasa lelah.
🤗 5. Peluk dirimu sendiri, secara harfiah
Ini terdengar sederhana—atau mungkin aneh—tapi peluk dirimu sendiri. Pegang tanganmu, letakkan tangan di dada, atau peluk tubuhmu erat-erat. Tubuhmu butuh sentuhan yang hangat. Butuh diyakinkan bahwa kamu masih di sini. Masih ada. Masih utuh.
Pelukan dari orang lain memang menyembuhkan, tapi pelukan dari diri sendiri bisa jadi bentuk cinta paling jujur. Cinta yang tidak meminta balasan, tidak menuntut pengertian, hanya hadir… sebagai bentuk penerimaan.
🌿 Karena Kamu Tak Harus Sempurna
Ada banyak hari ketika kita merasa gagal. Gagal jadi kuat, gagal jadi produktif, gagal jadi versi ideal dari diri sendiri. Dan dalam keheningan itu, seringkali muncul suara-suara yang menghakimi: “Kamu harusnya bisa lebih baik.”
Tapi bagaimana jika hari itu, yang kamu butuhkan bukan perbaikan… melainkan penerimaan?
Bagaimana jika hari itu, kamu memilih untuk berkata, “Aku cukup. Bahkan dalam bentukku yang sedang tidak baik-baik saja.”
Self-love sering disalahartikan sebagai perayaan terus-menerus. Padahal mencintai diri tak selalu soal merasa cantik, semangat, atau penuh percaya diri. Kadang, self-love adalah ketika kamu menangis dan tetap memilih memaafkan dirimu. Ketika kamu gagal dan tetap memilih menghargai usahamu. Ketika kamu lelah dan tetap memilih merawat dirimu dengan lembut.
🌧 Kamu Boleh Lelah. Boleh Tidak Kuat.
Kalau hari ini kamu merasa tidak kuat, tidak semangat, tidak bergairah—boleh kok. Kamu bukan satu-satunya. Dan kamu tidak perlu merasa bersalah karenanya.
Kamu sedang belajar. Kita semua sedang belajar. Mencintai diri bukan akhir dari perjalanan, tapi proses harian yang kadang pelan, kadang lambat, tapi selalu layak diperjuangkan.
Jadi kalau hari ini kamu hanya bisa tidur seharian, makan dua suap, dan membalas satu pesan saja—itu pun sudah cukup. Kamu tetap berharga. Kamu tetap pantas dicintai.
Termasuk oleh dirimu sendiri.
Comments
Post a Comment