Hujan, Doa, dan Kata yang Tak Pernah Dijaga
Ia sedang duduk di depan laptop ketika musik pelan mengalun dari sudut kamar. Tidak keras, hanya cukup untuk menemani jemarinya mengetik. Pekerjaan WFH itu menuntut fokus, dan kamar yang cukup kedap membuatnya lupa pada dunia luar bahkan lupa bahwa langit sedang runtuh oleh hujan. Ia baru tersentak ketika suara orang-orang memanggil namanya dari luar rumah. Berkali-kali. Tergesa, nyaring, bercampur kepanikan. Hatinya langsung mencelos. Ia menoleh ke jendela, hujan turun deras. Air mulai menggenang. Ia berdiri terburu-buru, lalu teringat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti: ia belum berpakaian pantas untuk keluar sebagai seorang muslimah. Dengan napas tertahan, ia mengganti busana seadanya, lalu berlari keluar rumah. Di luar, suasana riuh. Tetangga sibuk mengalirkan air yang hampir masuk ke rumah-rumah. Di tengah kekacauan itu, seorang kakek melintas. Pakaiannya basah, tubuhnya penuh lumpur barangkali baru pulang dari sawah atau tegal. Tatapan kakek itu singgah padanya sebentar. La...