Posts

Hujan, Doa, dan Kata yang Tak Pernah Dijaga

Image
Ia sedang duduk di depan laptop ketika musik pelan mengalun dari sudut kamar. Tidak keras, hanya cukup untuk menemani jemarinya mengetik. Pekerjaan WFH itu menuntut fokus, dan kamar yang cukup kedap membuatnya lupa pada dunia luar bahkan lupa bahwa langit sedang runtuh oleh hujan. Ia baru tersentak ketika suara orang-orang memanggil namanya dari luar rumah. Berkali-kali. Tergesa, nyaring, bercampur kepanikan. Hatinya langsung mencelos. Ia menoleh ke jendela, hujan turun deras. Air mulai menggenang. Ia berdiri terburu-buru, lalu teringat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti: ia belum berpakaian pantas untuk keluar sebagai seorang muslimah. Dengan napas tertahan, ia mengganti busana seadanya, lalu berlari keluar rumah. Di luar, suasana riuh. Tetangga sibuk mengalirkan air yang hampir masuk ke rumah-rumah. Di tengah kekacauan itu, seorang kakek melintas. Pakaiannya basah, tubuhnya penuh lumpur barangkali baru pulang dari sawah atau tegal. Tatapan kakek itu singgah padanya sebentar. La...

Surat Yang Tak Pernah Kukirim #3

Untuk diriku yang sedang berusaha… Hai, kamu. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Aku tahu, tak semua hari terasa mudah. Kadang kamu tersenyum di luar, tapi ada gemuruh yang tak bisa dijelaskan di dalam. Kadang kamu bilang "nggak apa-apa", padahal hatimu retak pelan-pelan. Tapi tetap saja, kamu bangun setiap pagi, berjalan dengan kaki gemetar, dan tetap mencoba. Aku ingin bilang satu hal penting: kamu tidak harus kuat setiap waktu. Nggak apa-apa kalau hari ini kamu merasa lelah. Nggak apa-apa kalau kamu belum bisa memenuhi semua ekspektasi. Kamu manusia, bukan mesin pencetak keberhasilan. Berhentilah merasa bersalah hanya karena kamu ingin istirahat. Rehat bukan tanda menyerah. Rehat adalah bentuk cinta yang sering kita lupakan untuk diri sendiri. Jangan terlalu keras pada dirimu, ya. Kamu sudah melakukan yang terbaik—bahkan saat dunia tak melihat, bahkan saat kamu sendiri merasa itu belum cukup. Belajar pelan-pelan untuk mencintai dirimu, bukan karena kamu sempurna...

Boleh Kok Nggak Kuat Dulu: Tips Mencintai Diri di Tengah Kelelahan

Ada satu masa dalam hidup ketika kita mulai menyadari: jadi kuat terus-terusan itu melelahkan. Dan lebih melelahkan lagi ketika kita memaksakan diri terlihat kuat hanya karena takut dicap lemah. Sejak kecil, kita diajarkan untuk tangguh. Menahan tangis, menyembunyikan luka, dan berdiri tegak seolah semua baik-baik saja. Kita tumbuh dalam narasi yang seringkali menjadikan kelelahan sebagai tanda pengabdian, dan diam sebagai bentuk kedewasaan. Padahal diam tak selalu berarti kuat, dan lelah tak selalu layak dirayakan. Aku menulis ini bukan karena sudah sepenuhnya pulih. Tapi justru karena aku sedang belajar. Belajar mencintai diri yang kadang sulit dicintai. Belajar menerima hari-hari ketika bangun tidur terasa seperti beban. Belajar memberi ruang untuk diri yang kelelahan. Dan di tengah proses belajar itu, aku menemukan hal-hal sederhana yang justru membuatku kembali bisa bernapas. Hal-hal kecil yang ternyata, bisa menjadi cara untuk berkata pada diri sendiri: "Terima kasih suda...

Surat yang Tak Pernah Kukirim #2

Untuk kamu, sahabatku yang juga diam-diam jadi rumah—dan luka Aku pernah percaya bahwa hubungan kita akan selalu aman. Tidak akan ada rasa yang datang terlalu jauh, atau menjauh terlalu dalam. Tapi rupanya aku salah. Aku mulai merindukanmu bahkan saat kita masih duduk bersebelahan. Aku mulai berharap kamu membalas tatapan itu, bukan cuma sebagai teman. Lucu ya, bagaimana seseorang bisa menjadi segalanya, tapi tidak pernah benar-benar menjadi milikmu. Kamu selalu datang, dengan cerita-cerita kecilmu tentang dia. Tentang perasaanmu. Tentang bagaimana kamu ingin membuat dia tertawa. Dan aku, seperti biasa—mendengarkan, tersenyum, mengangguk. Padahal dalam hatiku, aku hancur sedikit demi sedikit. Karena setiap kamu menyebut namanya, aku kehilangan satu bagian dari diriku sendiri. Aku ingin marah. Tapi pada siapa? Pada kamu yang tak pernah tahu? Atau pada aku yang terlalu pengecut untuk bilang bahwa aku mencintaimu lebih dari yang seharusnya? Aku tahu... kalau aku jujur, mungk...

Surat yang Tak Pernah Kukirim #1

              Untuk Kamu yang Kucintai Diam-Diam Magelang, 26 Juli 2010 Hai, kamu. Mungkin kamu nggak akan pernah baca ini. Atau kalau pun suatu hari kamu membacanya, kamu mungkin tidak tahu bahwa surat ini untukmu. Dan aku rasa, itu lebih baik begitu. Aku pernah menyukaimu. Bukan, lebih tepatnya... aku masih menyukaimu. Diam-diam. Tenang-tenang. Dalam cara yang bahkan tak bisa kujelaskan. Rasanya aneh mencintai seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar hadir. Tapi setiap kali kamu muncul di sela hidupku—lewat senyum, tanya kabar, atau sekadar candamu yang selalu telat kupahami—aku merasa cukup. Aku menyukai caramu menjawab dunia. Caramu bicara tentang hal-hal besar dengan mata yang menyala. Aku menyukai caramu menyebut nama orang-orang yang kamu sayangi, dan berharap suatu hari, mungkin, aku jadi salah satunya. Tapi aku tahu, aku bukan bagian dari kisahmu. Aku hanyalah pelintas. Dan kamu, kamu adalah seseorang yang singgah untuk membu...

Patah

 sayangnya, aku patah— bukan retak yang bisa direkat bukan luka yang bisa diobat tapi hancur, diam-diam, dalam sunyi yang tak pernah sempat kuminta siapa pun untuk mengerti aku pernah utuh, sungguh pernah percaya bahwa cinta adalah pelindung, bukan penghancur tapi nyatanya, yang kupeluk justru bayanganmu dan yang tinggal hanya serpihan aku yang dulu sayangnya, aku patah tapi tak apa— dari reruntuhan ini, suatu hari akan tumbuh aku yang baru lebih kuat meski tak lagi sama. —aksaraakrima

Lopp #Ep01

Lama tak bersua! Kuharap kabar baik selalu menyertai setiap pembaca tulisanku ini. Sembari mendengarkan lagu jawa yang sedang hits, Nemu dari Gilga Sahid ditemani air putih dan kolak ketela yang sempat dibuat tadi pagi tiba-tiba hati tergugah untuk menulis kembali. Jendela kost yang memperlihatkan pemandangan yang tidak begitu estetik namun langit berkata sudah sore dan waktunya untuk menggelapkan diri serasa mendukung niatan hati ini.  Tulisan ini kuberi judul Lopp #Ep01 karena aku harap tulisanku ini akan berlanjut sampai tenggelamnya aku ke bumi. Lopp merupakan nama kontak seseorang yang sudah aku tulis pada episode sebelumnya. Jika sebelumnya kisahku dengannya masih sangat dipertanyakan. Kali ini aku ingin mengatakan dan mengumumkan pada jagad bahwa tepat pada 16 Mei kita bersama mendeklarasikan untuk selangkah lebih maju untuk hubungan kami ke depan.  Tidak mudah.  Jelas. Dua kepala, dua pemikiran, dua orang, dua gender, dan pastinya dua trauma yang berbeda. Namun sa...