Perjamuan Petir di Penghujung Amarah

Di rumah itu, udara selalu terasa tajam,
Bukan karena dingin, tapi karena lisan yang tak pernah padam.


Ia berdiri seperti menara tua yang angkuh,
Menanam duri di setiap langkahku yang mulai rapuh.


Setiap hari, aku menelan belati dari tiap katanya,
Menghitung retak di hati yang kian menganga luasnya.


"Tak becus," katanya, "Tak pantas," desisnya,
Menjadi racun yang menyusup di antara doa dan air mata.

Hingga sore itu, langit tak lagi sanggup memendam benci,
Awan hitam bergulung, sehitam rasa sakit yang kupendam di hati.


Guntur menggelegar, menyuarakan jeritan yang tak mampu kuucap,
Tentang ribuan luka yang dalam diam kuserap.

Ia berdiri di sana, menantang cakrawala yang murka,
Masih dengan telunjuk yang menuding, mencari-cari noda dan luka.


Beliau tak tahu, bahwa langit sedang menghitung setiap tetes air mataku,
Bahwa semesta sedang menyiapkan pengadilan bagi setiap pilu.

Lalu, cahaya putih membelah jagat.

Satu kilat, satu dentum, satu takdir yang menjemput,
Memutus rantai kata-kata yang selama ini membuatku kalut.

Petir menyambar, bukan untuk membakar raga semata,
Tapi untuk membumikan kesombongan yang melampaui batas karsa.

Hening seketika.

Hanya ada bau tanah basah dan sisa sangit yang dingin,
Di bawah guyur hujan, semua racun diterbangkan angin.

Tubuh itu rebah, membawa pergi semua maki yang pernah ada,
Menyisakan aku yang bersimpuh, memeluk lega yang tak terkira.

Langit telah menjemputnya dengan cara yang paling nyala,
Membasuh lukaku dengan air mata hujan yang tak lagi lara.

Kini rumah tak lagi sempit, napas tak lagi tercekik,
Karena dendam alam telah menjawab doa yang terbisik.

Comments

Popular posts from this blog

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Dan Reguler Undip

WISUDA UNDIP || Setahun 4 Kali Periode Kelulusan

Lirik Lagu Mars FSM Undip