Hujan, Doa, dan Kata yang Tak Pernah Dijaga
Ia baru tersentak ketika suara orang-orang memanggil namanya dari luar rumah. Berkali-kali. Tergesa, nyaring, bercampur kepanikan.
Hatinya langsung mencelos. Ia menoleh ke jendela, hujan turun deras. Air mulai menggenang. Ia berdiri terburu-buru, lalu teringat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti: ia belum berpakaian pantas untuk keluar sebagai seorang muslimah. Dengan napas tertahan, ia mengganti busana seadanya, lalu berlari keluar rumah.
Di luar, suasana riuh. Tetangga sibuk mengalirkan air yang hampir masuk ke rumah-rumah. Di tengah kekacauan itu, seorang kakek melintas. Pakaiannya basah, tubuhnya penuh lumpur barangkali baru pulang dari sawah atau tegal.
Tatapan kakek itu singgah padanya sebentar. Lalu, tanpa aba-aba, sebuah kalimat meluncur begitu saja dari mulutnya.
“Tiduran aja kerjaannya sih.”
Kalimat itu singkat. Tapi cukup untuk menghantam. Ia membeku. Tidak ada bantahan, tidak ada pembelaan. Ia tahu ia sedang bekerja, bukan tidur. Namun lidahnya kelu. Hujan, orang-orang, dan rasa malu bercampur jadi satu.
Sebulan berlalu.
Kabar itu datang seperti kilat di siang hari. Kakek yang sama ditemukan jatuh ke got di pinggir jalan menuju sawah. Konon, ia mengantuk, tetapi tetap memaksakan diri berangkat. Tubuh renta itu tak sempat diselamatkan. Ia meninggal sebelum sempat berkata apa-apa, termasuk meminta maaf.
Orang-orang berbisik. Tentang lisannya yang tak pernah dijaga. Tentang caranya berbicara yang sering menyakiti siapa pun tanpa pandang bulu.
Ia mendengar semua itu dengan hati yang ganjil. Tidak ada rasa puas. Tidak pula lega. Hanya kesadaran yang perlahan tumbuh: bahwa kata-kata, sekecil apa pun, bisa menjadi doa atau karma.
Ia kembali ke kamarnya. Musik kembali diputar pelan. Hujan kali ini hanya tinggal kenangan. Ia menutup mata sejenak, lalu berdoa lagi. Bukan untuk membalas, melainkan untuk mengingatkan dirinya sendiri: agar kelak, lisannya tak menjadi sebab luka yang tak sempat disembuhkan.
.jpg)
Comments
Post a Comment