Surat yang Tak Pernah Kukirim #2
Untuk kamu, sahabatku yang juga diam-diam jadi rumah—dan luka
Aku pernah percaya bahwa hubungan kita akan selalu aman.
Tidak akan ada rasa yang datang terlalu jauh, atau menjauh terlalu dalam.
Tapi rupanya aku salah.
Aku mulai merindukanmu bahkan saat kita masih duduk bersebelahan.
Aku mulai berharap kamu membalas tatapan itu, bukan cuma sebagai teman.
Lucu ya, bagaimana seseorang bisa menjadi segalanya, tapi tidak pernah benar-benar menjadi milikmu.
Kamu selalu datang, dengan cerita-cerita kecilmu tentang dia. Tentang perasaanmu. Tentang bagaimana kamu ingin membuat dia tertawa.
Dan aku, seperti biasa—mendengarkan, tersenyum, mengangguk.
Padahal dalam hatiku, aku hancur sedikit demi sedikit.
Karena setiap kamu menyebut namanya, aku kehilangan satu bagian dari diriku sendiri.
Aku ingin marah.
Tapi pada siapa? Pada kamu yang tak pernah tahu?
Atau pada aku yang terlalu pengecut untuk bilang bahwa aku mencintaimu lebih dari yang seharusnya?
Aku tahu... kalau aku jujur, mungkin semuanya akan berubah.
Dan perubahan itu tidak menjanjikan kita akan tetap berteman, apalagi tetap bersama.
Maka aku memilih diam. Menyimpan semuanya sendirian.
Karena aku lebih takut kehilangan kamu sepenuhnya, daripada kehilangan kesempatan untuk dicintai balik.
Kini kita berjalan seperti biasa.
Masih tertawa di obrolan-obrolan receh. Masih saling berbagi playlist. Masih saling menjaga.
Tapi aku tahu, aku sedang berdiri di antara dua tebing curam:
Yang satu bernama harapan, dan yang satu lagi bernama kenyataan.
Kalau surat ini sampai ke kamu suatu hari nanti, aku harap kamu tidak merasa bersalah.
Cinta ini bukan untuk ditanggapi.
Cukup untuk dikenang, sebagai sesuatu yang pernah tumbuh di antara kita—dalam diam, dalam takut, dan dalam bentuk yang paling sunyi.
Salam,
dari aku yang menyayangi kamu dengan cara paling diam-diam yang bisa kubayangkan.
Comments
Post a Comment