Surat yang Tak Pernah Kukirim #1
Untuk Kamu yang Kucintai Diam-Diam
Magelang, 26 Juli 2010
Hai, kamu.
Mungkin kamu nggak akan pernah baca ini. Atau kalau pun suatu hari kamu membacanya, kamu mungkin tidak tahu bahwa surat ini untukmu. Dan aku rasa, itu lebih baik begitu.
Aku pernah menyukaimu. Bukan, lebih tepatnya... aku masih menyukaimu. Diam-diam. Tenang-tenang. Dalam cara yang bahkan tak bisa kujelaskan.
Rasanya aneh mencintai seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar hadir. Tapi setiap kali kamu muncul di sela hidupku—lewat senyum, tanya kabar, atau sekadar candamu yang selalu telat kupahami—aku merasa cukup.
Aku menyukai caramu menjawab dunia. Caramu bicara tentang hal-hal besar dengan mata yang menyala. Aku menyukai caramu menyebut nama orang-orang yang kamu sayangi, dan berharap suatu hari, mungkin, aku jadi salah satunya.
Tapi aku tahu, aku bukan bagian dari kisahmu. Aku hanyalah pelintas. Dan kamu, kamu adalah seseorang yang singgah untuk membuat hatiku tahu rasanya berharap... tanpa pernah punya alasan.
Jadi surat ini kutulis bukan untuk dikirim. Tapi untuk merayakan perasaan yang pernah (dan masih) tumbuh. Yang meski tak punya akhir, tetap layak untuk diingat.
Terima kasih karena pernah ada—meski hanya sebentar, dan tak pernah benar-benar ke sini.
Aku baik-baik saja.
Meski tidak bersamamu.— seseorang yang diam-diam mendoakanmu dari jauh
Comments
Post a Comment