Posts

Surat yang Tak Pernah Kukirim #2

Untuk kamu, sahabatku yang juga diam-diam jadi rumah—dan luka Aku pernah percaya bahwa hubungan kita akan selalu aman. Tidak akan ada rasa yang datang terlalu jauh, atau menjauh terlalu dalam. Tapi rupanya aku salah. Aku mulai merindukanmu bahkan saat kita masih duduk bersebelahan. Aku mulai berharap kamu membalas tatapan itu, bukan cuma sebagai teman. Lucu ya, bagaimana seseorang bisa menjadi segalanya, tapi tidak pernah benar-benar menjadi milikmu. Kamu selalu datang, dengan cerita-cerita kecilmu tentang dia. Tentang perasaanmu. Tentang bagaimana kamu ingin membuat dia tertawa. Dan aku, seperti biasa—mendengarkan, tersenyum, mengangguk. Padahal dalam hatiku, aku hancur sedikit demi sedikit. Karena setiap kamu menyebut namanya, aku kehilangan satu bagian dari diriku sendiri. Aku ingin marah. Tapi pada siapa? Pada kamu yang tak pernah tahu? Atau pada aku yang terlalu pengecut untuk bilang bahwa aku mencintaimu lebih dari yang seharusnya? Aku tahu... kalau aku jujur, mungk...

Surat yang Tak Pernah Kukirim #1

              Untuk Kamu yang Kucintai Diam-Diam Magelang, 26 Juli 2010 Hai, kamu. Mungkin kamu nggak akan pernah baca ini. Atau kalau pun suatu hari kamu membacanya, kamu mungkin tidak tahu bahwa surat ini untukmu. Dan aku rasa, itu lebih baik begitu. Aku pernah menyukaimu. Bukan, lebih tepatnya... aku masih menyukaimu. Diam-diam. Tenang-tenang. Dalam cara yang bahkan tak bisa kujelaskan. Rasanya aneh mencintai seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar hadir. Tapi setiap kali kamu muncul di sela hidupku—lewat senyum, tanya kabar, atau sekadar candamu yang selalu telat kupahami—aku merasa cukup. Aku menyukai caramu menjawab dunia. Caramu bicara tentang hal-hal besar dengan mata yang menyala. Aku menyukai caramu menyebut nama orang-orang yang kamu sayangi, dan berharap suatu hari, mungkin, aku jadi salah satunya. Tapi aku tahu, aku bukan bagian dari kisahmu. Aku hanyalah pelintas. Dan kamu, kamu adalah seseorang yang singgah untuk membu...

Patah

 sayangnya, aku patah— bukan retak yang bisa direkat bukan luka yang bisa diobat tapi hancur, diam-diam, dalam sunyi yang tak pernah sempat kuminta siapa pun untuk mengerti aku pernah utuh, sungguh pernah percaya bahwa cinta adalah pelindung, bukan penghancur tapi nyatanya, yang kupeluk justru bayanganmu dan yang tinggal hanya serpihan aku yang dulu sayangnya, aku patah tapi tak apa— dari reruntuhan ini, suatu hari akan tumbuh aku yang baru lebih kuat meski tak lagi sama. —aksaraakrima

Lopp #Ep01

Lama tak bersua! Kuharap kabar baik selalu menyertai setiap pembaca tulisanku ini. Sembari mendengarkan lagu jawa yang sedang hits, Nemu dari Gilga Sahid ditemani air putih dan kolak ketela yang sempat dibuat tadi pagi tiba-tiba hati tergugah untuk menulis kembali. Jendela kost yang memperlihatkan pemandangan yang tidak begitu estetik namun langit berkata sudah sore dan waktunya untuk menggelapkan diri serasa mendukung niatan hati ini.  Tulisan ini kuberi judul Lopp #Ep01 karena aku harap tulisanku ini akan berlanjut sampai tenggelamnya aku ke bumi. Lopp merupakan nama kontak seseorang yang sudah aku tulis pada episode sebelumnya. Jika sebelumnya kisahku dengannya masih sangat dipertanyakan. Kali ini aku ingin mengatakan dan mengumumkan pada jagad bahwa tepat pada 16 Mei kita bersama mendeklarasikan untuk selangkah lebih maju untuk hubungan kami ke depan.  Tidak mudah.  Jelas. Dua kepala, dua pemikiran, dua orang, dua gender, dan pastinya dua trauma yang berbeda. Namun sa...

Tulisan Ini Tentangnya, Ch

Entah untuk kali pertamanya atau untuk ke sekian kalinya aku merasa beruntung dan bersyukur atas apa yang Tuhan kasihkan kepadaku. Di saat aku ingin mengeluhkan apa yang ada di depanku, selalu saja Tuhan timpa hal-hal yang jauh lebih membahagiakan yang membuatku merasa malu untuk menyerah dengan keadaan. Entah rasa apa yang berasa, namun Tuhan.. aku berterima kasih atas apa yang selalu Kau beri. Salah satu hal yang membuatku bersyukur adalah dipertemukan dengan seorang malaikat tak bersayap yang mengajarkanku banyak hal yang selalu tanpa dia sadari kebaikannya membuatku merasa selalu nyaman untuk menceritakan banyak hal tentang diriku kepadanya. Aku merasa tidak sendiri melewati semua ini. Rasa-rasanya memang selalu tidak adil karena yang terjadi adalah aku selalu menyusahkannya sedangkan dia? Dia hanya sebatas menjadi pendengar yang baik, pemberi solusi yang baik, dia datang dengan obat yang aku keluhkan. Dia dokter bagiku, untukku. Andaikan ada kebaikan yang bisa membalas keb...

Saat Ini, Bukan Tentang Saat Lalu

Perubahan terbesar yang terjadi dalam hidup seseorang pasti selalu mengenai setiap orang. Tidak melihat siapa orang tersebut, pun kapan hal itu akan terjadi.  Sebuah pertemuan yang berawal dari sebuah kata sapa, lewat fitur yang sudah tidak asing lagi di era digital ini membuat kehidupan seseorang berubah. Sapaan yang sudah tidak menjadi rahasia lagi, sudah bukan menjadi barang asing lagi. Ini tentang sebuah kerinduan terhadap seseorang yang selayaknya sudah tidak boleh dirasakan. Seseorang yang sejatinya sudah bukan lagi siapa-siapa dan apa-apa lagi. Ingin mengatakan kata 'terima kasih', hanya saja rasa gengsi terlalu tinggi membuat semua seakan berlalu begitu saja. Rasa gengsi yang jauh lebih besar daripada ucap kata dalam fitur digital itu. Padahal, hal yang sangat mudah untuk dilakukan.  Seakan yang terjadi adalah semua akses menuju pintunya tertutup begitu saja.  Mencoba membuka dan mengatakan kata 'basa basi' yang akhirnya hanya saling bertukar kabar yang tidak be...

Kata Tentang Kita - Episode 01

Aneh. Seperti hanya sekejap. Apa ada yang salah?  Apakah karena ekspektasi yang terlalu besar? Apakah apa ini? Bukan. Sepertinya memang dari awal sudah salah.  Harusnya tidak berjalan dengan lancar. Lagi untuk apa berjalan lancar kalau akhirnya hambar.  Atau memang sedang hambar? Atau memang akan seterusnya hambar? Atau hanya terbuai oleh sebuah kenyamanan semata? Entahlah. Akankah menyisih? Atau memang ini jalannya? Salahkah doa yang kuucapkan? Maaf, bahkan aku lupa untuk berdo'a Menyerah? Haruskah itu yang harus kulakukan? Haruskah? Tapi, aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak kembali menghilang  Bingung. Haruskah kembali mengulang? Jika pada akhirnya, datangmu hanya sementara untuk apa kau buatku nyaman? Aku benci, tapi aku tidak bisa melepas Sudah. ikuti saja dulu alur inginnya bagaimana. Bukankah begitu? -akr