Posts

Showing posts from July, 2025

Surat yang Tak Pernah Kukirim #2

Untuk kamu, sahabatku yang juga diam-diam jadi rumah—dan luka Aku pernah percaya bahwa hubungan kita akan selalu aman. Tidak akan ada rasa yang datang terlalu jauh, atau menjauh terlalu dalam. Tapi rupanya aku salah. Aku mulai merindukanmu bahkan saat kita masih duduk bersebelahan. Aku mulai berharap kamu membalas tatapan itu, bukan cuma sebagai teman. Lucu ya, bagaimana seseorang bisa menjadi segalanya, tapi tidak pernah benar-benar menjadi milikmu. Kamu selalu datang, dengan cerita-cerita kecilmu tentang dia. Tentang perasaanmu. Tentang bagaimana kamu ingin membuat dia tertawa. Dan aku, seperti biasa—mendengarkan, tersenyum, mengangguk. Padahal dalam hatiku, aku hancur sedikit demi sedikit. Karena setiap kamu menyebut namanya, aku kehilangan satu bagian dari diriku sendiri. Aku ingin marah. Tapi pada siapa? Pada kamu yang tak pernah tahu? Atau pada aku yang terlalu pengecut untuk bilang bahwa aku mencintaimu lebih dari yang seharusnya? Aku tahu... kalau aku jujur, mungk...

Surat yang Tak Pernah Kukirim #1

              Untuk Kamu yang Kucintai Diam-Diam Magelang, 26 Juli 2010 Hai, kamu. Mungkin kamu nggak akan pernah baca ini. Atau kalau pun suatu hari kamu membacanya, kamu mungkin tidak tahu bahwa surat ini untukmu. Dan aku rasa, itu lebih baik begitu. Aku pernah menyukaimu. Bukan, lebih tepatnya... aku masih menyukaimu. Diam-diam. Tenang-tenang. Dalam cara yang bahkan tak bisa kujelaskan. Rasanya aneh mencintai seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar hadir. Tapi setiap kali kamu muncul di sela hidupku—lewat senyum, tanya kabar, atau sekadar candamu yang selalu telat kupahami—aku merasa cukup. Aku menyukai caramu menjawab dunia. Caramu bicara tentang hal-hal besar dengan mata yang menyala. Aku menyukai caramu menyebut nama orang-orang yang kamu sayangi, dan berharap suatu hari, mungkin, aku jadi salah satunya. Tapi aku tahu, aku bukan bagian dari kisahmu. Aku hanyalah pelintas. Dan kamu, kamu adalah seseorang yang singgah untuk membu...

Patah

 sayangnya, aku patah— bukan retak yang bisa direkat bukan luka yang bisa diobat tapi hancur, diam-diam, dalam sunyi yang tak pernah sempat kuminta siapa pun untuk mengerti aku pernah utuh, sungguh pernah percaya bahwa cinta adalah pelindung, bukan penghancur tapi nyatanya, yang kupeluk justru bayanganmu dan yang tinggal hanya serpihan aku yang dulu sayangnya, aku patah tapi tak apa— dari reruntuhan ini, suatu hari akan tumbuh aku yang baru lebih kuat meski tak lagi sama. —aksaraakrima