Surat yang Tak Pernah Kukirim #2
Untuk kamu, sahabatku yang juga diam-diam jadi rumah—dan luka Aku pernah percaya bahwa hubungan kita akan selalu aman. Tidak akan ada rasa yang datang terlalu jauh, atau menjauh terlalu dalam. Tapi rupanya aku salah. Aku mulai merindukanmu bahkan saat kita masih duduk bersebelahan. Aku mulai berharap kamu membalas tatapan itu, bukan cuma sebagai teman. Lucu ya, bagaimana seseorang bisa menjadi segalanya, tapi tidak pernah benar-benar menjadi milikmu. Kamu selalu datang, dengan cerita-cerita kecilmu tentang dia. Tentang perasaanmu. Tentang bagaimana kamu ingin membuat dia tertawa. Dan aku, seperti biasa—mendengarkan, tersenyum, mengangguk. Padahal dalam hatiku, aku hancur sedikit demi sedikit. Karena setiap kamu menyebut namanya, aku kehilangan satu bagian dari diriku sendiri. Aku ingin marah. Tapi pada siapa? Pada kamu yang tak pernah tahu? Atau pada aku yang terlalu pengecut untuk bilang bahwa aku mencintaimu lebih dari yang seharusnya? Aku tahu... kalau aku jujur, mungk...