Posts

Showing posts from 2026

Perjamuan Petir di Penghujung Amarah

Di rumah itu, udara selalu terasa tajam, Bukan karena dingin, tapi karena lisan yang tak pernah padam. Ia berdiri seperti menara tua yang angkuh, Menanam duri di setiap langkahku yang mulai rapuh. Setiap hari, aku menelan belati dari tiap katanya, Menghitung retak di hati yang kian menganga luasnya. "Tak becus," katanya, "Tak pantas," desisnya, Menjadi racun yang menyusup di antara doa dan air mata. Hingga sore itu, langit tak lagi sanggup memendam benci, Awan hitam bergulung, sehitam rasa sakit yang kupendam di hati. Guntur menggelegar, menyuarakan jeritan yang tak mampu kuucap, Tentang ribuan luka yang dalam diam kuserap. Ia berdiri di sana, menantang cakrawala yang murka, Masih dengan telunjuk yang menuding, mencari-cari noda dan luka. Beliau tak tahu, bahwa langit sedang menghitung setiap tetes air mataku, Bahwa semesta sedang menyiapkan pengadilan bagi setiap pilu. Lalu, cahaya putih membelah jagat. Satu kilat, satu dentum, satu takdir yang menjemput, Memutus r...